Tuesday, August 12, 2008

Gambar Dalam Kampanye Politik

Gambar dalam sebuah kampanye politik tidak sekedar pajangan biasa. Gambar dapat menjadi media yang sangat strategis untuk menjaring pemilih pada pemilihan umum atau Pilpres dan Pilkada.

Masih banyak tim sukses calon kepala daerah yang mempublikasikan gambar yang tidak tepat. Dari hal yang sepele misalnya, apakah seorang kandidat itu harus pakai tutup kepala atau tidak. Banyak yang menyangka karena ingin terlihat religius, maka harus memakai peci. Atau agar kelihatan muda dan fresh maka jangan pakai tutup kepala.

Anggapan ini tentu beralasan. Sebab dibalik argumen apakah harus pakai tutup kepala atau tidak, terdapat pesan yang dapat mempengaruhi masyarakat. Sayangnya, di kita penentuan tutup kepala atau tidak, masih didasarkan kepada alasan yang sederhana. Selain tutup kelapa, apakah seorang kandidat dalam setiap fotonya harus tersenyum atau tidak. Kalau tersenyum, dari arah mana gambar itu diambil dari arah kiri, kanan atau depan. Sebab ada orang yang ketika tersenyum ternyata tidak simetris. Bagi kandidat yang senyumnya tidak simetris, maka jangan mengambil gambar dari depan, sebab akan terkesan sinis. Hal ini sepele, tetapi sangat penting, sebab setiap gambar akan dilihat publik.

Di masyarakat kita, janggut, kumis atau jambang, menjadi bagian yang harus diperhatikan. Persoalannya, ketiganya terkadang tidak hanya menjadi simbol tetapi sudah berubah menjadi semacam keyakinan tentang sitra seseorang. Orang berjanggut dianggap paling soleh, padahal belum tentu. Kasus Fuzi Bowo (Gubernur DKI Jakarta), ternyata kumis membawa berkah. “Coblos kumisnya’, ternyata membawa berkah. Dengan posisi yang berbeda, Dada Rosada (Walikota Bandung terpilih) juga melakukan hal yang sama, “coblos dadanya”.

Hal lain yang sukup krisial adalah baju yang dikenakan, temasuk aksesoris yang melekat. Apakah harus pake jas lengkap dengan dasinya, apakah harus pakai baju koko, kelihata sederhana tetapi rapih, atau seperti apa? Di tempat tertentu ada kandidat kepala daerah yang memakai sorban, maklum dia membidik segmen masyarakat agama (Islam). Ada juga kandidat yang memakai baju kemeja, berdasi namun lengan panjangnya dilipat sehingga kelihatan lebih enerjik.

Bahkan ada juga dalam kampanye politik, gambar seseorang yang asalnya Ustad dibuat semacam ekting pemain film papan atas. Dia harus berpose sangat nyentrik dengan posisi tangan di bahu dan kaki dilipat di bawah dan kaki pasangannya ditaikan ke belakang. Sebuah terobosan baru, sehingga banyak orang yang tertipu dengan gambar semacam ini.

Dalam politik gambar jangan dianggap sepele, sebab lewat gambar banyak masyarakat yang harus memilihnya atau tidak. Jauh di luar visi dan idiologi, gambar memang sangat simbolis, tetapi sangat penting untuk diperhatikan. Jika tidak bisa membuat gambar yang tepat dan menarik, pemimpin partai dapat membayar oran profesional dari luar partai politik.